Bulan: Juni 2022

Pola Makan dan Menu Diet Penderita Diabetes dengan Hipertensi

Dua dari tiga orang dengan diabetes diketahui memiliki hipertensi. Jika Anda salah satu orang yang memiliki kedua penyakit ini, jangan khawatir. Selain menjalani pengobatan, Anda perlu menerapkan pola makan yang tepat, yakni bijak dalam memilih menu makanan untuk penderita diabetes dan hipertensi.

Pola makan dan menu makanan untuk penderita diabetes dan hipertensi
Jika Anda mengidap diabetes sekaligus hipertensi, perawatannya tidak hanya minum obat saja.

Kedua penyakit ini sangat berkaitan erat dengan gaya hidup, misalnya konsumsi makanan tinggi gula atau makanan tinggi garam. Kebiasaan ini bisa memicu gejala diabetes maupun gejala hipertensi kambuh.

Baca Juga : Berbagai Pilihan Obat Diabetes yang Biasa Diresepkan Dokter

Itulah sebabnya, Anda perlu mengubah gaya hidup jadi lebih sehat dan sesuai dengan kondisi yang Anda miliki.

1. Perbanyak asupan serat
Pola makan diabetes dan hipertensi haruslah diperkaya dengan menu makanan berserat tinggi.

Serat tidak mudah dicerna tubuh sehingga melancarkan sistem pencernaan tanpa menyebabkan kadar gula darah tinggi.

Inilah mengapa makanan tinggi serat umumnya dapat membantu mengontrol gula darah tetap stabil, mencegah sembelit, menurunkan kolesterol, serta mengatasi berbagai masalah gangguan pencernaan.

Serat banyak ditemukan pada makanan nabati seperti buah, sayur, dan bijian-bijian. Itu sebabnya, jangan lupa selalu tambahkan asupan serat ke dalam makanan yang Anda konsumsi sehari-hari.

Untuk biji-bijian, target Anda adalah untuk makan tiga sampai lima porsi biji-bijian setiap hari, dan setidaknya setengah dari porsi biji-bijian tersebut adalah gandum utuh.

Untuk menu diet untuk penderita diabetes dan hipertensi, Anda bisa menyiapkan menu makanan berikut ini.

Setengah gelas nasi merah.
Setengah gelas sayur matang.
Dua potong ukuran kecil daging ayam tanpa kulit.
Lengkapi juga dengan satu buah pisang untuk cuci mulut.

2. Mengatur isi piring
pola makan menu makanan untuk penderita diabetes dan hipertensi
Sumber: National Health Institute
Untuk mengatur isi pring, penderita diabetes dan hipertensi bisa meniru konsep makan model T. Coba Anda perhatikan gambar di atas, garis pembatas jenis makanannya membentuk huruf T.

Isilah setengah piring Anda dengan pisang dan sayur tumis brokoli. Kemudian, seperempat bagian diisi dengan protein tanpa lemak seperti ikan panggang, kacang, atau ayam.

Lalu, seperempat sisanya diisi dengan nasi merah atau makanan pengganti nasi lainnya. Menu makanan untuk penderita diabetes dan hipertensi bisa Anda kreasikan sesuai selera agar Anda tidak bosan.

Jangan hanya mengandalkan menu makan yang itu-itu saja karena zat gizi yang didapat jadi tidak bervariasi.

Di lain sisi, Anda juga akan bosan dan dikhawatirkan malah melampiaskan diri makan makanan yang tidak sehat.

2. Menggunakan bumbu yang baik
Selanjutnya, yang perlu Anda perhatikan adalah penggunaan garam dalam makanan karena penyakit tekanan darah tinggi yang dimiliki.

Anda tidak boleh mendapatkan lebih dari 1.500 miligram natrium per hari, yaitu kurang dari satu sendok teh garam untuk seluruh makanan yang Anda konsumsi dalam sehari.

Ketimbang menggunakan garam, bumbui masakan Anda dengan jeruk nipis, bawang putih, jahe, cabai, oregano, atau jinten untuk memperkaya rasanya.

Selain membuat makanan lebih nikmat, penggunaan rempah-rempah tersebut juga akan memberikan manfaat kesehatan untuk Anda.

Selain garam, sebaiknya juga tidak menggunakan tambahan gula. Ini karena pengidap diabetes perlu membatasi asupan kalorinya maksimum 1500 kkal per hari.

Nah, kalori ini tidak hanya didapat dari gula saja, tapi juga makanan lain, seperti daging, buah, dan sayur. Jika ditambah dengan tambahan gula dikhawatirkan bisa melebihi asupan gula untuk diabetes yang disarankan.

Jadi, pastikan menu makanan untuk penderita diabetes dan hipertensi baiknya dibuat sendiri sehingga Anda bisa mengatur banyaknya garam dan gula yang digunakan.

4. Batasi kopi
Kafein dapat meningkatkan gula darah dan tekanan darah. Oleh karena itu, jika Anda memang penggemar kopi, aturan sehat dalam mengonsumsinya perlu dipahami.

Jika Anda memiliki gula darah atau tekanan darah yang tinggi setelah minum kopi, batasi asupan kafein Anda menjadi 200 miligram, sekitar 2 cangkir kopi per hari.

Hindari cara menyeduh kopi menggunakan french press atau espresso, namun pilihlah kopi yang dibuat dengan kertas filter.

Kertas filter akan menyerap senyawa berminyak di biji kopi yang disebut cafestol, yang dapat meningkatkan kolesterol.

Anda juga dapat mempertimbangkan untuk beralih ke kopi tanpa kafein karena beberapa penelitian menunjukkan hal itu dapat mengurangi gula darah.

15 Pilihan Makanan dan Minuman untuk Diabetes, Plus Menunya!
Memiliki diabetes membuat Anda perlu memperhatikan asupan makanan sehari-hari. Sembarangan makan justru bisa memperparah penyakit diabetes. Memilih makanan yang baik untuk kestabilan gula darah menjadi kunci utama agar penderita diabetes bisa hidup sehat. Lantas, apa saja makanan yang aman dan sehat untuk penderita diabetes? Cek daftarnya berikut ini. Pilihan makanan yang baik untuk diabetes Makanan mengandung glukosa yang […]

5. Pentingnya asupan kalium
Tidak cuma gula dan garam yang perlu diperhatikan makanan untuk penderita diabetes dan hipertensi. Salah satunya mineral, yakni kalium juga perlu terpenuhi asupan hariannya.

Kalium dapat mengurangi efek sodium yang dapat membantu mengendalikan tekanan darah.

Pisang baik untuk penderita diabetes dan menjadi sumber kalium yang menyehatkan penderita hipertensi.

Begitu juga melon, brokoli, wortel mentah, kacang, kentang, roti gandum, dan kacang-kacangan.

Namun, pada penderita yang mengalami komplikasi diabetes, seperti nefropati diabetik, terlalu banyak kalium justru dapat membuat masalah ginjal menjadi lebih buruk.

Tanyakan pada dokter jika perlu untuk membatasi berapa banyak kalium yang Anda perlukan, agar pola makan untuk diabetes dan hipertensi yang Anda terapkan tidak salah.

6. Kurangi alkohol
Walaupun disebutnya pola makan, sebenarnya tidak cuma makanan yang diperhatikan saja untuk penderita diabetes dan hipertensi.

Bir, wine, dan cocktail juga mengandung gula dan akan menyebabkan kadar gula darah, tekanan darah, serta trigliserida meningkat.

Tidak hanya itu, alkohol juga merangsang nafsu makan dan dapat menyebabkan Anda makan berlebihan.

Untuk itu, membatasi semua jenis minuman tersebut adalah kuncinya.

Bagi pria, Anda harus membatasi diri menjadi maksimal 2 gelas alkohol per hari. Sementara wanita, batasi konsumsi alkohol maksimal 1 gelas per hari.

7. Hindari makanan tinggi lemak

Hindari lemak trans alias minyak terhidrogenasi parsial yang ditemukan dalam makanan yang digoreng dan dipanggang.

Selain itu, jangan lupa batasi asupan lemak jenuh, yang sebagian besar ditemukan di potongan lemak daging dan produk susu lemak.

Ini karena keduanya dapat meningkatkan kolesterol yang menyebabkan penyakit jantung.

Sesekali, Anda boleh saja mengonsumsi makan tak sehat. Hanya saja, pastikan Anda mengontrol porsinya.

Jika Anda ingin makan es krim, Anda bisa memesan yang ukuran kecil. Ingin makan kue? Bagi dualah dengan pasangan atau teman Anda.

Bagaimana saat makan di restoran fast food? Jangan pesan kentang goreng dan gantilah dengan salad.

Berbagai Pilihan Obat Diabetes yang Biasa Diresepkan Dokter

Diabetes melitus adalah penyakit kronis yang tidak bisa disembuhkan. Namun, gejala diabetes dan keparahan kondisinya masih dapat dikontrol dengan pola hidup sehat dan mengonsumsi obat diabetes yang tepat.

Beragam pilihan obat diabetes melitus dari dokter
Berbeda dengan diabetes tipe 1 yang pasti membutuhkan suntik insulin, diabetes tipe 2 umumnya dapat ditangani dengan perubahan gaya hidup sehat diabetes, seperti mengatur pola makan dan rutin olahraga.

Baca Juga : Vitamin E, Nutrisi yang Berguna untuk Cegah Kerusakan Sel Karena Radikal Bebas

Namun dalam beberapa kasus, terutama ketika kadar gula darah yang tinggi sulit dikendalikan hanya dengan menjaga pola makan, pengobatan diabetes butuh dibantu dengan penggunaan obat-obatan, termasuk terapi insulin.

Secara umum, golongan obat diabetes memiliki cara kerja dan efek samping yang berbeda.

Namun, fungsinya tetap sama, yaitu membantu mengendalikan kadar gula darah sekaligus menekan risiko komplikasi penyakit kencing manis.

Berikut ini adalah beberapa golongan obat untuk diabetes yang biasanya direkomendasikan dokter.

1. Metformin (biguanid)

Obat diabetes yang termasuk ke dalam golongan biguanid adalah metformin.

Ini adalah obat kencing manis generik yang paling sering diresepkan dokter untuk pasien diabetes tipe 2.

Metformin bekerja menurunkan produksi glukosa di hati dan meningkatkan sensitivitas tubuh terhadap insulin.

Dengan begitu, tubuh bisa menggunakan insulin lebih efektif dan glukosa lebih mudah diserap oleh sel-sel di dalam tubuh.

Obat metformin generik untuk kencing manis tersedia dalam bentuk pil. Namun, metfomin juga memiliki efek samping seperti mual, diare, dan penurunan berat badan.

Efek samping tersebut dapat hilang ketika tubuh mulai beradaptasi dengan penggunaan obat diabetes ini.

Biasanya, dokter akan mulai meresepkan obat oral atau injeksi lainnya sebagai kombinasi jika metformin saja tidak cukup membantu dalam mengendalikan kadar gula dalam darah.

2. Sulfonilurea
Selain metformin, golongan obat generik untuk diabetes melitus yang sering diresepkan dokter adalah sulfonilurea.

Sulfonilurea membantu mengendalikan gula darah dengan cara merangsang pankreas menghasilkan lebih banyak insulin untuk mengatasi resistensi insulin yang terjadi.

Umumnya, obat golongan sulfonilurea hanya diperuntukkan untuk pasien diabetes tipe 2.

Orang dengan diabetes tipe 1 tidak menggunakan obat ini karena pada dasarnya tubuh mereka tidak atau kurang memproduksi insulin.

Berikut ini adalah contoh obat diabetes golongan sulfonilurea.

Glibenclamide
Glimepiride
Gliclazide
Glipizide
Glimepiride
Obat generik untuk diabetes melitus ini dapat menimbulkan efek hipoglikemia atau kondisi menurunnya gula darah dengan cepat.

Oleh karenanya, bila Anda diresepkan obat kencing manis ini oleh dokter, Anda harus menerapkan jadwal makan yang teratur.

3. Meglitinide

Obat diabetes golongan meglitinide bekerja seperti sulfonilurea, yaitu merangsang pankreas menghasilkan lebih banyak insulin.

Bedanya, obat untuk diabetes melitus ini bekerja lebih cepat. Durasi efeknya pada tubuh juga lebih pendek dari pada obat golongan sulfonilurea.

Repaglinide dan nateglinide adalah contoh dari obat golongan meglitinide.

Salah satu efek samping yang muncul dari minum obat golongan meglitinide adalah gula darah rendah dan penambahan berat badan.

Konsultasikanlah dengan dokter untuk mendapatkan saran terbaik bagi kondisi Anda.

4. Thiazolidinediones (glitazone)
Thiazolidinediones atau juga dikenal dengan obat golongan glitazone juga kerap diberikan untuk membantu mengendalikan kadar gula darah pada pasien diabetes melitus tipe 2.

Obat ini bekerja dengan cara membantu tubuh untuk menghasilkan lebih banyak insulin.

Selain mengendalikan gula darah, obat ini juga membantu menurunkan tekanan darah dan memperbaiki metabolisme lemak dengan meningkatkan kadar HDL (kolesterol baik) dalam darah.

Kenaikan berat badan merupakan salah satu efek samping dari penggunaan obat diabetes melitus ini.

Mengutip dalam laman Mayo Clinic, obat kencing manis ini juga dikaitkan dengan efek samping lain yang lebih serius, seperti risiko gagal jantung dan anemia.

Obat diabetes yang termasuk ke dalam golongan glitazone (thiazolidinediones) ini adalah pioglitazon

5. Inhibitor DPP-4 (gliptin)

Inkretin merupakan hormon di saluran pencernaan yang bekerja memberi sinyal pada pankreas untuk melepaskan insulin ketika kadar gula darah naik.

Normalnya, inkretin yang dihasilkan tubuh pada akhirnya akan dinonaktifkan oleh enzim DPP-4.

Inhibitor dipeptidil peptidase-4 (inhibitor DPP-4) atau dikenal juga dengan golongan gliptin adalah obat generik untuk diabetes melitus.

Obat gliptin ini bekerja dengan cara menghambat enzim DPP-4 sehingga inkretin tubuh akan dapat bertahan lebih lama.

Selain itu, obat kencing manis ini dapat membantu mengurangi pemecahan glukosa di hati sehingga tidak dialirkan ke darah saat kadar gula sedang tinggi.

Walaupun biasanya obat diabetes tidak mempengaruhi berat badan, gliptin mempunyai sedikit efek menekan rasa lapar sehingga bermanfaat untuk pasien diabetes yang tidak ingin berat badannya bertambah naik.

Berikut ini adalah beberapa obat yang termasuk ke dalam golongan ini.

Sitagliptin
Saksagliptin
Linagliptin
Vildagliptin
Alogliptin
Sayangnya, beberapa laporan mengaitkan obat ini dengan risiko pankreatitis atau radang pada pankreas.

Maka dari itu, informasikan kepada dokter seluruh kondisi kesehatan yang Anda miliki, terutama jika memiliki riwayat penyakit yang berhubungan dengan pankreas.

6. Agonis reseptor GLP-1 (inkretin mimetik)
Agonis reseptor GLP-1 (golongan obat inkretin mimetik) diresepkan dokter jika obat-obatan diabetes melitus seperti yang sudah disebutkan di atas belum mampu mengontrol kadar gula darah.

Obat kencing manis ini diberikan melalui suntikan maupun oral.

GLP-1 merupakan salah satu jenis hormon inkretin yang dihasilkan tubuh.

GLP-1 bekerja dengan cara merangsang pelepasan insulin oleh pankreas setelah makan. Obat agonis reseptor GLP-1 bekerja dengan cara meniru kerja GLP-1 tersebut.

Hormon inkretin dapat merangsang pelepasan insulin setelah makan sehingga meningkatkan produksi insulin dan menurunkan glukagon.

Nah, glukagon bekerja dengan cara merangsang hati mengeluarkan cadangan glukosa saat tubuh sedang kekurangan glukosa, misalnya saat berpuasa.

Obat diabetes ini juga membantu memperlambat pencernaan sehingga mencegah lambung cepat kosong dan menahan nafsu makan.

Berikut ini contoh obat kencing manis golongan agonis reseptor GLP-1.

Exanatide
Semaglutide
Albiglutide
Liraglutide
Dulaglutide
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa liraglutide dan semaglutide dapat membantu mengurangi risiko serangan jantung dan stroke pada orang yang berisiko tinggi terhadap kedua kondisi tersebut.

Efek samping obat kencing manis ini termasuk mual, muntah, dan kenaikan berat badan.

Bagi beberapa orang, obat kencing manis ini dapat meningkatkan risiko pankreatitis.

7. Inhibitor SGLT2

Sodium-glucose co-transporter-2 (SGLT2) adalah inhibitor golongan baru yang juga sering digunakan dalam pengobatan diabetes.

Golongan obat diabetes melitus ini bekerja dengan mengurangi penyerapan kembali glukosa dari ginjal ke dalam darah.

Dengan begitu, glukosa akan dikeluarkan melalui urine sehingga gula yang menumpuk atau beredar di dalam darah akan berkurang.

Jika diimbangi dengan diet yang benar serta program latihan fisik yang rutin, obat golongan ini efektif membantu mengendalikan gula darah yang tinggi pada pasien dengan diabetes tipe 2.

Dokter biasanya tidak akan memberikan obat ini bagi mereka yang memiliki diabetes tipe 1 dan diabetes ketoasidosis.

Berikut adalah beberapa contoh obat kencing manis golongan inhibitor SGLT2.

Dapagliflozin
Canagliflozin
Empagliflozin

8. Inhibitor alfa-glukosidase
Tidak seperti kebanyakan jenis obat diabetes lainnya, golongan obat inhibitor alfa-glukosidase tidak memberikan efek langsung pada sekresi atau sensitivitas tubuh terhadap insulin.

Sebaliknya, obat ini memperlambat pemecahan karbohidrat yang terdapat dalam makanan bertepung.

Alfa-glukosidase sendiri merupakan salah satu enzim yang memecah karbohidrat menjadi partikel gula lebih kecil, yakni glukosa, yang kemudian diserap oleh organ dan digunakan sebagai energi.

Saat penyerapan karbohidrat melambat, perubahan zat pati (tepung) dalam karbohidrat juga menjadi lebih lambat.

Hal ini memungkinkan proses perubahan pati menjadi glukosa berjalan perlahan-lahan.

Hasilnya, kadar gula darah menjadi lebih stabil. Obat golongan ini akan memiliki efek terbaik jika diminum sebelum makan.

Beberapa obat diabetes yang masuk ke dalam golongan inhibitor alfa-glukosidase adalah acarbose dan miglitol.

Konsumsi obat kencing manis ini tidak menyebabkan gula darah rendah atau berat badan bertambah.

Namun, penggunaan obat ini bisa membuat Anda sering membuang gas dan mengalami efek samping masalah pencernaan.

Jika sering mengalaminya segera konsultasikan ke dokter untuk menyesuaikan dosis yang lebih aman.

9. Terapi insulin

Kadar gula darah pengidap diabetes dapat dikendalikan dengan menerapkan pola hidup sehat dan minum obat secara teratur.

Namun bagi orang dengan diabetes tipe 1, terapi insulin merupakan cara andalan untuk mengendalikan penyakitnya karena pankreas mereka tidak lagi bisa memproduksi insulin.

Pengidap diabetes tipe 1 wajib menggunakan insulin, sedangkan pasien diabetes tipe 2 masih memungkinkan menggunakan obat penurun gula darah terlebih dahulu.

Meski begitu, orang dengan diabetes tipe 2 kadang juga memerlukan terapi insulin.

Mereka perlu terapi insulin karena sekalipun pankreasnya masih dapat menghasilkan hormon insulin, tubuh tidak bisa merespons insulin yang dihasilkan secara optimal.

Biasanya dokter meresepkan terapi insulin bagi pasien diabetes tipe 2 yang tidak berhasil mengendalikan gula darahnya lewat perubahan gaya hidup dan pengobatan oral.

Terdapat beberapa jenis insulin tambahan yang digunakan untuk pengobatan diabetes.

Berikut adalah jenis insulin dibedakan berdasarkan kecepatan kerjanya.

Insulin kerja cepat (rapid-acting insulin).
Insulin reguler (short-acting insulin).
Insulin kerja sedang (intermediate acting insulin).
Insulin kerja lama (long-acting insulin).

Manfaat Omega 3 untuk kesehatan tubuh

Vitamin E, Nutrisi yang Berguna untuk Cegah Kerusakan Sel Karena Radikal Bebas

Ada banyak sekali jenis nutrisi yang penting untuk menjaga kesehatan tubuh. Salah satunya adalah vitamin yang dibutuhkan tubuh dengan jumlah kecil. Sayangnya, senyawa organik tersebut tidak dapat diproduksi sendiri oleh tubuh sehingga kebutuhannya harus bisa dicukupi melalui makanan. Contohnya adalah vitamin E yang dibutuhkan tubuh sebagai antioksidan yang bertugas melindungi sel-sel tubuh dari serangan radikal bebas.

Secara alami, kebutuhan tubuh akan vitamin ini dapat dipenuhi dengan rutin mengonsumsi kacang, minyak sayur, dan jenis biji-bijian. Akan tetapi, karena kondisi kesehatan tertentu dan gaya hidup yang tidak sehat, termasuk terkait kebiasaan mengonsumsi makanan, beberapa orang tidak mampu mencukupi kebutuhan tubuhnya akan vitamin ini.

Baca Juga : Ketahui Apa Itu Turun Berok atau Hernia, dan Cara Tepat Menanganinya

Alhasil, mereka disarankan untuk mengonsumsi suplemen ini secara rutin dengan dosis dan aturan pakai tertentu. Lalu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan suplemen vitamin E, manfaat, dan cara menggunakannya? Nah, jawaban dari pertanyaan tersebut bisa kamu temukan di penjelasan berikut ini.

Apa Itu Vitamin E?

Sebagai salah satu jenis vitamin, vitamin E adalah nutrisi yang penting dibutuhkan tubuh. Fungsinya adalah sebagai antioksidan yang melindungi sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas. Tidak hanya itu, senyawa tokoferol yang terkandung pada vitamin ini juga memiliki sifat fat soluble, alias larut di dalam lemak.

Seperti yang telah disebutkan di atas, kebutuhan vitamin ini dapat dipenuhi dengan konsumsi makanan tertentu, tetapi karena gaya hidup seseorang bisa mengalami defisiensi vitamin E. Jika dibiarkan dalam jangka waktu yang lama, kondisi tersebut tentu bisa berisiko menimbulkan masalah kesehatan serius, seperti cystic fibrosis atau abetalipoproteinemia. Oleh karena itu, untuk mengatasinya, tak sedikit orang mencukupi kebutuhan nutrisi tersebut dengan mengonsumsi suplemen.

Deskripsi Suplemen Vitamin E

Suplemen vitamin E adalah produk kesehatan yang perlu dikonsumsi oleh seseorang yang tak mampu mencukupi kebutuhan tubuh akan vitamin tersebut secara alami. Tergolong sebagai obat bebas, kamu boleh mengonsumsi suplemen ini tanpa resep dari dokter. Manfaat dari suplemen ini adalah mencegah dan juga mengatasi defisiensi atau kekurangan vitamin E serta penyakit cystic fibrosis.

Obat ini dapat dikonsumsi oleh orang dewasa maupun anak-anak. Meski begitu, pada ibu hamil, penggunaan suplemen ini perlu dikonsultasikan terlebih dulu dengan dokter. Hal serupa juga perlu dilakukan bagi ibu menyusui karena vitamin ini mampu terserap dalam ASI.

Hal yang Wajib Diperhatikan saat Akan Menggunakan Suplemen Vitamin E
Sebelum mengonsumsi suplemen ini, terdapat beberapa hal penting yang perlu diperhatikan:

Jangan mengonsumsi obat ini jika mempunyai alergi terhadap vitamin E.
Konsultasikan dulu dengan dokter penggunaan obat ini jika menderita diabetes, retinitis pigmentosa, kekurangan vitamin K, kelainan darah, hemofilia, anemia, maupun masalah pembekuan darah.
Beri tahu dokter terkait pemakaian suplemen vitamin ini apabila pernah menderita stroke, penyakit ginjal, maupun liver.
Konsultasikan dulu dengan dokter sebelum menggunakan vitamin ini jika sedang mengonsumsi obat, produk herbal, atau suplemen lain.
Konsultasikan dulu dengan dokter jika sedang hamil, merencanakan kehamilan, atau menyusui sebelum mengonsumsi vitamin ini.
Konsultasikan dulu dengan dokter terkait penggunaan atau penghentian penggunaan vitamin ini saat akan melakukan prosedur medis maupun operasi tertentu.
Segera periksakan diri ke dokter jika muncul reaksi alergi maupun overdosis pasca mengonsumsi suplemen ini.
Aturan Pakai dan Dosis Vitamin E
Aturan pakai dan dosisnya pada dasarnya ditentukan dokter dengan menyesuaikan kondisi kesehatan pasien, jenis suplemen, serta usia. Namun, secara umum, dosis pemakaiannya tergantung dari tujuan penggunaannya adalah sebagai berikut.

Untuk Mengatasi Defisiensi Vitamin E
Dosis penggunaan vitamin E untuk mengatasi kondisi kesehatan ini pada orang dewasa adalah sekitar 40 sampai 50 mg setiap hari. Sementara itu, pada bayi dengan usia kurang dari 1 bulan dosisnya adalah 10 mg per kgBB per hari dan untuk anak usia di atas 1 bulan hingga 18 tahun adalah 2 sampai 10 mg per kgBB setiap hari.

Untuk Menangani Abetalipoproteinemia
Untuk menangani abetalipoproteinemia, dosis penggunaan suplemen ini pada orang dewasa adalah 50 sampai 100 mg setiap hari. Sementara itu, dosis penggunaan pada bayi usia kurang dari 1 bulan adalah 100 mg per kgBB per hari dan untuk anak usia di atas 1 bulan hingga 18 tahun adalah 50 sampai 100 mg per kgBB setiap hari.

Sebagai Suplemen untuk Menangani Cystic Fibrosis
Untuk menangani cystic fibrosis, dosis penggunaan suplemen ini pada orang dewasa adalah 100 sampai 200 mg setiap hari dan 50 mg per hari untuk anak umur 1 bulan hingga 1 tahun. Untuk anak umur 1 tahun hingga 12 tahun, dosisnya adalah 100 mg per hari dan untuk anak umur 12 sampai 18 tahun adalah 200 mg per hari.

Fungsi Vitamin E

Seperti yang sudah dijelaskan sedikit sebelumnya, fungsi vitamin E yang utama adalah antioksidan yang menangkal radikal bebas untuk menyerang sel tubuh. Tanpa ditangkal, radikal bebas dapat menyebabkan beragam penyakit kronis, seperti kanker serta masalah pada jantung.

Tidak hanya itu, vitamin ini juga berguna untuk menjaga kesehatan mata dan keseimbangan sistem hormon. Dengan sistem hormon yang seimbang, sistem saraf dan endokrin pun turut terjaga, juga mencegah masalah berat badan mudah meningkat, sakit perut karena menstruasi, infeksi pada saluran kemih, sampai gejala kecemasan dan alergi.

Manfaat penting lainnya dari vitamin ini adalah menunjang masa kehamilan serta perkembangan janin sehingga perlu dikonsumsi oleh ibu hamil. Terakhir, fungsi vitamin E adalah mencegah risiko terkena penyakit Alzheimer karena mengandung tokotinerol yang memiliki sifat anti inflamasi. Manfaat tersebut juga didukung dari peran vitamin ini yang mampu memperlambat penurunan kinerja otak dan kehilangan memori.

Cara Tepat Mengonsumsi Vitamin E
Pastikan untuk membaca aturan pakai yang tercantum pada kemasan produk sebelum menggunakan suplemen ini. Jangan ragu untuk berdiskusi dengan dokter terlebih dahulu jika kamu mempunyai kondisi kesehatan atau riwayat penyakit tertentu saat akan mengonsumsi suplemen tersebut.

Perlu diingat jika penggunaan suplemen ini dilakukan saat kebutuhan tubuh akan vitamin E tidak tercukupi dari asupan makanan alami. Guna mengoptimalkan penyerapannya di dalam tubuh, usahakan untuk mengonsumsi suplemen ini sesudah makan maupun ketika makan. Terkait penyimpanannya, letakkan vitamin ini pada tempat yang sejuk, jauh dari sinar matahari, serta tidak dapat dijangkau anak-anak maupun hewan peliharaan.

Interaksi Vitamin E saat Dikonsumsi Bersama Obat Lain
Selayaknya suplemen vitamin lainnya, vitamin ini mampu menimbulkan interaksi saat dikonsumsi bersama dengan obat jenis lain, sebagai berikut.

Meningkatkan risiko perdarahan saat dikonsumsi bersamaan dengan warfarin atau jenis obat pengencer darah lainnya.
Menurunkan penyerapan vitamin E saat dikonsumsi bersama dengan colestipol, orlistat, atau cholestyramine.
Menurunkan efektivitas dari suplemen vitamin B3, ketoconazole, maupun suplemen zat besi.
Tentunya, agar tak berisiko mengalami interaksi obat yang berbahaya bagi kondisi kesehatan, selalu konsultasikan terlebih dulu penggunaan suplemen ini jika kamu tengah aktif mengonsumsi obat lainnya.

Efek Samping Vitamin E
Secara umum, penggunaan suplemen ini tidak akan menimbulkan efek samping jika dikonsumsi dengan dosis atau cara yang sesuai. Meski begitu, jika berlebihan, mengonsumsi vitamin ini mampu menimbulkan beberapa efek samping, seperti diare, mual, pusing, lelah berlebihan, penglihatan kabur, hingga nyeri perut. Jika gejala efek samping tersebut tidak kunjung mereda atau bahkan bertambah parah, segera lakukan pemeriksaan dengan dokter agar bisa segera ditangani.

Harga Vitamin E
Harga vitamin E berada di kisaran Rp30.000 tergantung dari jenis dan jumlahnya. Namun, ada pula yang dibanderol dengan harga ratusan ribu karena memang dilengkapi dengan nutrisi dan kandungan penting lainnya bagi tubuh. Jadi, dengan harga yang terbilang terjangkau tersebut, masalah kekurangan vitamin ini pada tubuh bisa diatasi asal dikonsumsi dengan cara dan dosis yang tepat.

Ketahui Apa Itu Turun Berok atau Hernia, dan Cara Tepat Menanganinya

Kebanyakan dari kamu mungkin tak asing lagi dengan masalah kesehatan yang dikenal dengan istilah turun berok. Hernia, bahasa medis dari turun berok, tergolong sebagai penyakit yang mampu menimbulkan masalah kesehatan serius jika tidak tertangani dengan tepat. Hanya saja, belum banyak orang yang mengetahui fakta tersebut dan malah menganggap sepele penyakit ini.

Benar saja jika penyakit turun berok umumnya tidak membahayakan hingga mengancam nyawa penderitanya. Meski begitu, kondisi tersebut tidak dapat hilang atau sembuh dengan sendirinya tanpa penanganan medis yang tepat. Bahkan, tak jarang kasus turun berok hanya bisa diatasi melalui prosedur operasi dan wajib dilakukan guna mencegah risiko terjadinya komplikasi berbahaya.

Baca Juga :  Bantu Masa Penyembuhan, Berikut Pilihan Olahraga Aman untuk Pasien TBC

Nah, agar kamu lebih paham tentang penyakit turun berok, jenis, gejala, penyebab, dan cara tepat menanganinya, penjelasan berikut ini layak untuk disimak.

Apa Itu Turun Berok?
Turun berok adalah jenis penyakit yang bisa terjadi pada siapa saja, tak terkecuali orang dewasa atau bayi sekalipun. Turun berok adalah masalah kesehatan dengan kondisi organ di dalam tubuh menjadi menonjol pada dinding otot maupun jaringan sekitarnya. Bagian dari organ tersebut mencuat melalui jaringan atau area otot yang menjadi lemah sehingga menyebabkan munculnya benjolan atau tonjolan.

Biasanya, hernia atau turun berok muncul di perut, lebih tepatnya di antara pinggul dan dada. Pada beberapa kasus, benjolan akibat turun berok juga bisa muncul di area paha serta pangkal paha bagian atas.

Jenis-Jenis Turun Berok

Jenis penyakit turun berok dibedakan berdasarkan lokasinya. Berikut adalah jenis-jenis dari penyakit turun berok atau hernia.

Hernia Inguinalis
Ciri utama dari hernia inguinalis adalah munculnya usus pada lubang di sekitar pangkal paha atau bagian bawah perut yang disebut sebagai saluran inguinalis.

Hernia jenis ini memiliki sedikit perbedaan pada pria dan wanita. Saluran inguinalis pada pria merupakan jalur masuk dari skrotum dan perut melalui saluran sperma. Di sisi lain, saluran inguinalis pada wanita membentuk jalur ke arah jaringan ikat penopang rahim. Karena itu, area hernia yang dialami oleh wanita cenderung berdekatan dengan bagian tubuh tersebut. Mayoritas masalah hernia inguinalis yang dialami oleh remaja terjadi akibat cacat bawaan pada saluran inguinalis yang tidak menutup rapat, tapi malah menyisakan ruang sehingga bisa disusupi oleh usus.

Hernia Femoralis
Jenis yang kedua adalah hernia femoralis yang rentan disalahartikan sebagai hernia inguinalis karena sama-sama terjadi pada bagian yang mirip serta disebabkan oleh hal yang nyaris sama. Namun, hernia femoralis ini memunculkan tonjolan di bagian bawah perut, pinggul, paha atas, dan selangkangan.

Hernia Umbilikalis
Selanjutnya adalah hernia umbilikalis, yaitu penyakit turun berok yang umumnya terjadi pada bayi yang baru lahir sampai berusia 6 bulan. Hernia umbilikalis terjadi ketika kondisi pada bagian usus menonjol melalui bagian dinding perut sebelah pusar dan biasa dikenal masyarakat awam sebagai pusar bodong. Tonjolan tersebut lebih jelas terlihat saat bayi sedang menangis, dan bisa sembuh dengan sendirinya ketika bayi berumur 1 tahun atau melalui proses operasi.

Hernia Epigastrik
Hernia epigastrik terjadi ketika usus menonjol di bagian otot perut, lebih tepatnya di area antara dada dan pusar. Tonjolan dari hernia jenis ini terlihat di bagian dada dan bisa diobati melalui operasi.

Hernia Insisional
Ketika seseorang baru saja menjalani operasi di bagian perutnya, sayatan yang dilakukan ketika pembedahan bisa melemahkan bagian tertentu dari otot perut. Alhasil, usus bisa keluar melalui bekas sayatan tersebut atau melalui jaringan otot sekitarnya. Inilah yang menyebabkan seseorang bisa mengalami hernia insisional.

Hernia Hiatus atau Hiatal
Terakhir, hernia hiatus terjadi di bagian bukaan diafragma, lebih tepatnya di pertemuan antara lambung dengan kerongkongan. Ketika otot pada area bukaan diafragma atau sekitarnya melemah, bagian paling atas lambung bisa muncul ke atas dan menyebabkan tekanan pada organ tersebut.

Walaupun tak menimbulkan tonjolan, hernia hiatal bisa menyebabkan gangguan pencernaan, nyeri dada, ataupun mulas. Kondisi tersebut bisa ditangani dengan mengonsumsi obat-obatan maupun mengubah pola makan. Namun, tak jarang pula hernia hiatal hanya bisa disembuhkan melalui pembedahan atau operasi.

Bantu Masa Penyembuhan, Berikut Pilihan Olahraga Aman untuk Pasien TBC

Penyakit TBC atau tuberculosis dengan masa pengobatan TBC yang panjang dapat menurunkan kualitas hidup penderitannya. Berbagai aktivitas pun tidak lagi bisa dilakukan dengan leluasa akibat menurunnya fungsi paru-paru. Namun, bukan berarti Anda harus menghentikan kegiatan fisik sepenuhnya. Menjaga tubuh tetap fit dengan berolahraga justru bermanfaat bagi kondisi kesehatan penderita TBC. Lantas, seperti apa jenis olahraga yang boleh atau aman dilakukan penderita TBC?

Manfaat olahraga bagi penderita tuberkulosis

Kegiatan berolahraga memang menjadi tantangan tersendiri bagi orang yang menderita tuberkulosis paru aktif. Wajar saja, penyakit ini melemahkan fungsi sistem pernapasan, sementara Anda kemungkinan besar akan “ngos-ngosan” saat olaharaga.

Di samping itu, penderita TBC mungkin juga merasa ruang untuk beraktivitas dibatasi karena mereka berisiko tinggi menularkan penyakit TBC kepada orang lain. Akibatnya, kebanyakan lebih memilih di dalam rumah. Padahal, terlalu banyak beristirahat tanpa dibarengi latihan fisik juga tidak baik untuk kondisi kesehatan.

Baca Juga : Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) untuk TB Laten

Penderita TBC boleh saja berolahraga. Namun, pastikan kondisi Anda baik. Jika gejala TBC yang Anda alami cukup parah, sebaiknya hindari olahraga terlebih dulu. Terlebih jika kesehatan semakin menurun akibat efek samping dari obat antituberkulosis yang dikonsumsi.

Namun, jika selama menjalani pengobatan Anda merasa kondisi kesehatan semakin membaik, melakukan olahraga secara rutin justru bermanfaat bagi proses penyembuhan.

Menurut penelitian tahun 2019 yang dipublikasikan dalam jurnal Mind and Medical Science, olahraga rutin dapat membantu mengembalikan fungsi paru-paru yang semula terganggu akibat TBC secara bertahap.

Penelitian lain dalam jurnal Preventive Medicine juga menyebut bahwa olahraga yang menekankan pada teknik pernapasan bukan hanya mengurangi rasa sesak dan nyeri pada dada. Cara ini juga mampu mengembalikan berat tubuh ideal pada penderita TBC yang kehilangan berat badan secara drastis.

Olahraga boleh dilakukan oleh penderita TBC jika jenis, teknik, dan durasinya disesuaikan dengan kondisi kesehatan. Olahraga yang aman untuk penderita TBC biasanya berupa latihan fisik ringan dengan intensitas yang ringan.

Jenis olahraga yang boleh dilakukan penderita TBC
Jika olahraga dilakukan dengan tepat, penderita TBC bisa terhindar dari gangguan pernapasan selama melakukannya. Penderita TBC juga boleh melakukan olahraga di luar rumah asalkan tetap menjaga jarak dengan orang di sekitarnya dan menggunakan masker agar tidak menyebarkan bakteri ke udara.

Berikut adalah berbagai jenis olahraga yang aman sekaligus dianjurkan untuk penderita TBC.

1. Yoga
yoga cegah covid-19

Infeksi bakteri penyebab tuberkulosis pada paru-paru berakibat pada penurunan kapasitas paru-paru untuk menampung udara. Dalam olahraga yoga, latihan pernapasan dapat meningkatkan kapasitas paru-paru.

Masih dalam penelitian dari jurnal Preventive Medicine, latihan pernapasan dalam yoga dapat melancarkan jalannya udara di saluran pernapasan. Tak hanya itu, yoga juga dapat menambah volume udara di dalam paru-paru dan mengurangi stres pada penderita tuberkulosis.

Salah satu teknik yoga yang boleh dicoba sebagai olahraga untuk penderita TBC adalah pose kriya kapala hati. Latihan pernapasan melalui pose ini akan membersihkan saluran hidung dan saluran pernapasan bagian atas dengan bantu mengeluarkan dahak berlebih yang ada pada area tersebut.

Untuk melakukannya, ikutilah langkah-langkah berikut ini:

Mulailah dengan posisi duduk, tegakkan tulang belakang, leher, dan kepala.
Tarik dan embuskan napas dengan kencang dan cepat menggunakan otot-otot tenggorokan. Usahakan otot wajah tetap relaks.
Selagi menarik dan mengembuskan napas, hindari mengembangkan lubang hidung. Pastikan napas dilakukan dengan konsisten.
Lakukan sebanyak 10-15 kali dalam satu sesi.
Olahraga ini termasuk ringan untuk penderita TBC. Idealnya, latihan ini dilakukan selama 45 menit selama 3 kali seminggu.

Penelitian tersebut juga menambahkan lagi bahwa teknik yoga ini bisa berpengaruh baik untuk kesembuhan penderita TBC jika dilakukan rutin selama 4-6 bulan bersamaan dengan pengobatan TBC.

2. Jalan kaki
olahraga untuk pasien tuberkulosis

Olahraga ringan yang boleh dilakukan penderita TBC selanjutnya adalah berjalan kaki. Jalan kaki sering menjadi terapi bagi orang yang sedang menjalani pemulihan untuk penyakit yang menyerang paru-paru. Jalan kaki dapat memperkuat jaringan di sekitar paru-paru yang akan membuat organ tersebut berfungsi lebih baik sehingga terhindar dari sesak napas.

Biasanya, penderita TBC yang harus direhabilitasi di tempat perawatan khusus berjalan kaki selama 6 menit setiap hari di bawah pengawasan fisioterapis di dalam ruangan.

Pada penelitian di Journal of Exercise Rehabilitation menyebutkan, latihan berjalan kaki secara rutin yang dilakukan selama 6 menit dalam waktu 2 minggu menunjukkan peningkatan kemampuan pernapasan. Tak hanya itu, peredaran darah pasien pun menjadi lebih lancar.

Sementara itu, untuk penderita TBC yang kondisinya mulai membaik, manfaat berjalan kaki selama 30 menit setiap hari bisa membantu meningkatkan fungsi paru-paru jika dilakukan di luar ruangan.

Jika kondisi kesehatan paru-paru Anda terlihat membaik setelah melakukan olahraga ini secara rutin, Anda bisa meningkatkan intensitasnya. Cobalah menambahkan durasi atau mencoba latihan kekuatan pernapasan dan jantung lainnya, seperti bersepeda.

3. Angkat beban ringan
small dumbells

Melatih kekuatan otot bawah dengan berjalan kaki atau bersepeda merupakan latihan awal untuk mengembalikan fungsi paru-paru yang melemah. Selanjutnya, ketika keadaan tubuh sudah berangsur pulih, olahraga seperti angkat beban ringan juga boleh dilakukan oleh penderita TBC.

Pasalnya, pasien TBC yang menjalani rehabilitasi dengan istirahat total selama beberapa waktu, berisiko mengalami penurunan masa otot bagian atas tubuh. Hal ini dikarenakan mereka jarang bergerak.

Untuk mengembalikannya kekuatan otot seperti sedia kala, Anda bisa melakukan latihan peregangan otot atau bahkan mengangkat beban ringan. Salah satu yang boleh Anda lakukan adalah gerakan one-two punch menggunakan barbel ringan.

Anda cukup merentangkan tangan kiri dan kanan ke depan secara bergantian sambil membawa barbel. Latihan bisa dilakukan 12-20 kali di setiap sisi.

Melakukan latihan angkat beban bermanfaat untuk menguatkan otot-otot di bagian dada terutama di sistem pernapasan. Sama halnya dengan latihan pernapasan, jika dilakukan secara rutin olahraga memberikan dampak yang sangat baik dalam mengurangi gejala sesak napas dan meningkatkan kapasitas paru-paru.

Meski boleh, perhatikan hal ini sebelum penderita TBC olahraga

Selayaknya semua latihan fisik lain, Anda tentu harus melakukan pemanasan sebelum olahraga terlebih dahulu. Bagi Anda yang masih berkutat dengan TBC, ingatlah bahwa tubuh Anda belum mampu melakukan olahraga seperti biasa. Itu sebabnya, Anda juga butuh pengawasan terapis fisik.

Intensitas latihannya sendiri tergantung pada kemampuan tubuh Anda. Biasanya dokter atau terapis di tempat rehabilitasi akan mengukur kemampuan Anda dengan memberikan latihan kecil sebagai percobaan.

Jika Anda termasuk penderita melakukan pengobatan TBC rawat jalan, Anda sebaiknya tetap berkonsultasi dengan dokter mengenai bentuk dan intesitas olahraga yang boleh dilakukan sesuai kondisi.

Selain itu, latihan fisik secara rutin hendaknya juga dibarengi dengan konsumsi makanan yang bertujuan memenuhi nutrisi untuk penderita TBC. Selama masa pengobatan, penderita tidak hanya diharuskan meminum obat TBC secara teratur dan berolahraga rutin. Anda juga perlu mematuhi anjuran dan pantangan makanan untuk penderita TBC.

Jika tuberkulosis yang diderita tidak lagi menular (TB laten), Anda mungkin sudah bisa melakukan aktivitas di luar seperti biasa. Tanyakan pada dokter untuk memastikan kapan tepatnya Anda memungkinkan untuk melakukan aktivitas seperti berolahraga di pusat kebugaran atau gym.

Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) untuk TB Laten

Tuberkulosis (TB) termasuk dalam daftar penyakit infeksi yang paling mematikan di Indonesia. Penyakit akibat bakteri Mycobacterium tuberculosis ini tidak hanya menyerang paru-paru, tetapi juga bisa menimbulkan masalah pada tulang, otak, dan bagian tubuh lainnya. Terapi pencegahan tuberkulosis (TPT) dapat menjadi cara terbaik untuk mencegahnya.

Apa itu terapi pencegahan tuberkulosis (TPT)?
Terapi pencegahan tuberkulosis adalah serangkaian pengobatan dengan satu jenis atau lebih obat antituberkulosis yang diberikan untuk mencegah perkembangan penyakit TB.

Pemberian TPT sangat penting dilakukan kepada orang-orang yang telah terinfeksi oleh bakteri penyebab tuberkulosis.

Baca Juga : Bau Mulut: Penyebab, Pengobatan, Serta Pencegahannya

Perlu diketahui, penularan TBC bisa terjadi sangat cepat melalui udara. Apakah paparan bakteri akan berkembang menjadi penyakit bergantung pada kondisi tubuh Anda.

Bila Anda sedang sehat saat terpapar bakteri TB, bakteri yang masuk dapat segera dilawan oleh sistem imun. Dengan begitu, Anda tidak akan terinfeksi dan menjadi sakit.

Cek Fakta Tuberkulosis (TBC), Infeksi Penyebab Kematian Nomor 1 di Indonesia
TBC

Cek Fakta Tuberkulosis (TBC), Infeksi Penyebab Kematian Nomor 1 di Indonesia

Menurut organisasi kesehatan dunia, (WHO), sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi bakteri penyebab tuberkulosis. Setiap detiknya, ada satu orang yang terinfeksi TBC. Data pada tahun 2019 menunjukkan bahwa Indonesia berada di peringkat ketiga sebagai negara dengan kasus tuberkulosis (TBC) terbanyak di dunia, setelah India dan Tiongkok. TBC di Indonesia memang masih menjadi momok yang menakutkan dan […]

Namun, bila tubuh sedang sakit, bakteri bisa menjadi aktif dan berkembang biak dengan cepat. Alhasil, Anda akan mengalami gejala dan bisa menularkan penyakit ke orang lain.

Dalam beberapa kasus, bakteri TB juga bisa bersifat laten. Pada TB laten, bakteri tidak menyebabkan sakit, tetapi bisa menjadi aktif di kemudian hari dan memunculkan gejala apabila tidak diberi pengobatan.

Nah, pemberian TPT inilah yang akan mencegah perkembangan bakteri laten di dalam tubuh. Beberapa orang yang harus mendapatkan terapi pencegahan ini meliputi:

orang-orang yang kontak erat dengan pasien TBC atau tinggal satu rumah,
pengidap HIV/AIDS,
anak-anak,
pasien kanker dan diabetes,
pasien yang sedang menjalani perawatan dialisis atau pernah menjalani transplantasi organ, serta
warga binaan pemasyarakatan (WBP).
Obat-obatan yang digunakan dalam TPT akan bekerja untuk menghilangkan bakteri TB sebelum bakteri mulai merusak organ dan menimbulkan penyakit. TPT hanya efektif bila tidak ada bukti penyakit TB aktif.

Jenis-jenis pemberian TPT

obat terapi pencegahan tuberkulosis

Di Indonesia, terapi pencegahan tuberkulosis tersedia dalam 4 regimen. Berikut penjelasan lebih lanjutnya.

1. 6H
Pada regimen 6H, pasien diberikan satu macam obat isoniazid (INH) yang harus diminum setiap hari selama 6 bulan. Isoniazid merupakan antibiotik yang berfungsi untuk menangani gejala tuberkulosis paru atau di luar paru.

Pemberian TPT dengan regimen ini lebih tepat bila ditujukan pada anak berusia di bawah 2 tahun yang tinggal serumah dengan pasien TB dan orang-orang yang mengidap HIV/AIDS (ODHA).

2. 3HP
Pasien yang menjalani regimen 3HP berarti harus minum 2 macam obat INH dan rifapentin sebanyak satu kali seminggu selama tiga bulan.

Rifapentin sendiri kerap digunakan untuk mengurangi infeksi bakteri bagi penderita tuberkulosis aktif yang memiliki hasil tes mantoux positif.

3HP disarankan bagi anak-anak berusia 2–4 tahun yang tinggal bersama pasien tuberkulosis, ODHA di atas 2 tahun, dan kelompok berisiko lainnya yang berusia lebih dari 2 tahun.

Gejala Memburuk Hingga Kebal Obat, Ini Akibatnya Jika Lupa Minum Obat TBC
TBC

Gejala Memburuk Hingga Kebal Obat, Ini Akibatnya Jika Lupa Minum Obat TBC
Bakteri tuberkulosis (TBC) punya sifat yang “bebal” sehingga membutuhkan pengobatan antibiotik dalam jangka waktu panjang. Selain durasi, pengobatan TBC biasanya terdiri atas banyaknya jumlah obat yang perlu diminum. Akibatnya, pasien bisa lalai atau lupa minum obat sesuai jadwal. Jika hanya lupa sehari untuk minum obat TBC, mungkin dampaknya tidak terlalu besar. Namun, jika terus lupa […]

3. 3HR
Pemberian TPT dengan regimen 3HR cocok untuk bayi di bawah dua tahun yang tinggal satu rumah bersama pasien tuberkulosis atau memiliki HIV/AIDS.

Pasien akan diberikan 2 macam obat INH dan rifampisin yang harus diminum setiap hari selama 3 bulan. Rifampisin berfungsi untuk mengobati beberapa penyakit akibat infeksi bakteri. Selain TBC, penyakit yang juga diatasi dengan obat ini adalah kusta.

4. 6Lfx+E
Regimen 6Lfx+E terdiri atas 2 macam obat, yaitu levofloxacin dan ethambutol. Obat diminum setiap hari selama 6 bulan.

Biasanya pemberian TBT dengan regimen ini ditujukan pada anak yang kerap melakukan kontak dekat atau tinggal serumah dengan pasien TB RO.

Selama menjalani regimen pengobatan, pasien harus benar-benar minum obat TBC sesuai saran dokter. Walaupun pasien merasa sehat, pengobatan tetap harus dilanjutkan sampai waktu yang telah ditentukan.

Usahakan minum obat pada jam yang sama setiap harinya dalam keadaan perut kosong. Anda bisa meminumnya satu jam sebelum makan atau dua jam setelah makan.

Terkadang, pasien bisa mengalami efek samping obat TBC setelah mendapatkan terapi pencegahan tuberkulosis. Beberapa efek sampingnya meliputi:

kehilangan nafsu makan,
mual, muntah, dan sakit perut,
sensasi kebas atau kesemutan di kaki,
perubahan warna urine,
kebingungan,
muncul ruam kulit,
mata kekuningan,
kelelahan yang tidak biasa, dan
mengantuk.
Sebenarnya, efek samping jarang terjadi. Bila Anda mengalami kondisi-kondisi di atas dan tak kunjung membaik, segera hubungi dokter agar bisa mendapatkan penanganan segera.

Bagaimana cara mendapatkan TPT?
Dilansir dari situs TB Indonesia, Anda bisa mengakses TPT dengan mengunjungi fasilitas layanan kesehatan seperti puskesmas atau rumah sakit yang terdekat. Nantinya, Anda akan mendapatkan obat TBC dan akses TPT gratis dengan atau tanpa BPJS.

Bila TPT tidak tersedia, mintalah rekomendasi dari pihak tenaga medis untuk mengarahkan Anda ke fasilitas layanan kesehatan lainnya.

Pastikan Anda memenuhi syarat supaya bisa menerima terapi pencegahan tuberkulosis. Adapun syaratnya adalah memiliki hasil diagnosis bukan penderita TBC dan hasil tuberkulin atau rontgen yang normal.