Tetanus: Gejala, Komplikasi, hingga Cara Mengobatinya

Tetanus adalah salah satu penyakit yang namanya sudah familiar di kalangan masyarakat. Penyakit yang satu ini dikenal sebagai penyakit mematikan lantaran berhubungan dengan sistem saraf dan otot.

Nama tetanus diambil dari bahasa Yunani ‘tetanos’ yang bermakna ‘menegang’. Hal tersebut dikarenakan penderita tetanus umumnya mengalami gejala awal berupa kejang-kejang dengan rahang yang tertutup rapat (lockjaw), punggung melengkung, disertai sesak napas. Untuk lebih jelasnya, berikut adalah ulasan lengkap mengenai apa itu tetanus.

Apa Itu Tetanus?

Tetanus adalah penyakit infeksi berbahaya yang disebabkan oleh bakteri Clostridium tetani. Bakteri ini dapat ditemukan di tanah, kotoran manusia, hewan peliharaan, dan daerah pertanian. Tak hanya itu, bakteri Clostridium tetani juga dapat ditemukan pada besi berkarat dan ujung jarum atau peniti yang tidak steril.

Baca Juga : Fakta Varian Covid-19 Terbaru, Omicron dan Vaksin Booster

Bakteri Clostridium tetani dapat menyerang manusia maupun hewan, bahkan bayi yang baru lahir melalui luka iris tali pusar yang tidak dipotong dengan pisau steril. Tak tanggung-tanggung, penyakit tetanus merupakan salah satu penyebab tingginya angka kematian pada bayi.

Penyebab Tetanus
Pada dasarnya, penyakit tetanus dapat menyerang semua orang, tak peduli tua maupun muda. Namun orang-orang dengan kondisi berikut lebih berisiko terserang penyakit tetanus.

Orang yang belum mendapatkan injeksi vaksin tetanus.
Seseorang dengan sistem kekebalan tubuh atau imunitas yang lemah.
Luka pada kulit yang dibiarkan terbuka atau tidak dibersihkan dengan baik.
Gejala Tetanus
Gejala tetanus yang umum dialami oleh penderita ialah kejang atau kaku pada otot rahang (lockjaw). Selain itu terdapat beberapa gejala tetanus lainnya yang ikut menyertai gejala utama, antara lain:

Kram pada rahang.
Kejang otot secara tiba-tiba, biasanya terjadi pada otot sekitar perut.
Otot di sekujur tubuh terasa kaku dan sakit.
Sulit menelan.
Sakit kepala.
Demam dan berkeringat.
Perubahan pada tekanan darah dan detak jantung.
Komplikasi Penyakit Tetanus
Apabila gejala tetanus terjadi dan pasien tidak segera ditangani oleh tenaga medis, maka pasien berIsiko mengalami komplikasi. Berikut ini merupakan beberapa komplikasi yang diakibatkan oleh penyakit tetanus.

Kesulitan bernapas.
Kejang yang mengakibatkan penyempitan pada pita suara (laryngospasms).
Patah tulang.
Terjadi infeksi yang lebih parah.
Penyumbatan arteri utama pada paru-paru akibat adanya penggumpalan darah.
Sederet penyakit yang menyerang paru-paru, seperti pneumonia, emboli paru, dan infeksi paru-paru.
Gagal ginjal akut.
Jantung berhenti berdetak secara tiba-tiba.
Kerusakan otak yang diakibatkan oleh kurangnya pasokan oksigen dari paru-paru.
Gangguan lainnya akibat terlalu lama berada di rumah sakit.

Cara Mengobati Tetanus
Seseorang yang mengalami gejala-gejala tetanus sebaiknya segera dibawa ke rumah sakit untuk ditangani secara medis sebelum bakteri semakin menyebar dan infeksi yang terjadi semakin parah.

Biasanya para dokter akan melakukan diagnosa terhadap gejala-gejala yang dialami pasien. Pemeriksaan penunjang juga turut dilakukan demi memastikan bahwa gejala yang dialami oleh pasien memang benar-benar diakibatkan oleh Clostridium tetani.

Jika dokter sudah memastikan bahwa pasien mengidap tetanus, maka pasien diwajibkan menjalani rawat inap di rumah sakit untuk mengobati luka dan meredakan gejala tetanus.

Adapun rangkaian pengobatan yang dilakukan di rumah sakit meliputi:

Perawatan Luka
Perawatan luka ini biasanya meliputi pembersihan luka, menutup luka dengan kasa atau perban, hingga menjahit luka yang terbuka.

Perawatan ini bertujuan agar tidak terjadi infeksi yang diakibatkan oleh bakteri lain yang juga mungkin saja masuk melalui luka tersebut.

Suntikan Antitetanus
Perawatan selanjutnya ialah pemberian suntikan antitetanus. Zat antitetanus yang disuntikkan ini berfungsi untuk menetralkan racun neurotoksin yang dibawa oleh bakteri Clostridium tetani.

Pemberian Antibiotik
Antibiotik perlu diberikan pada pasien untuk membunuh bakteri penyebab tetanus. Pemberian antibiotik dapat dilakukan dengan berbagai cara, tergantung kebutuhan dan ada atau tidaknya reaksi alergi yang dialami oleh pasien terhadap zat antibiotik.

Pemberian Obat Penenang
Selain antibiotik, pasien juga akan diberi obat penenang guna melemaskan otot-otot yang tegang dan kaku akibat kejang.

Obat penenang yang diberikan oleh dokter menyesuaikan dosis yang dibutuhkan dan reaksi tubuh pasien setelah pemberian obat.

Pemberian Magnesium Sulfat dan Beta Blocker
Obat dengan kandungan magnesium sulfat dan beta blocker disini berfungsi untuk mengatur irama detak jantung dan pernapasan.

Sebagaimana telah dibahas pada bagian sebelumnya, gangguan pada saluran pernapasan dan paru-paru serta detak jantung yang berhenti tiba-tiba merupakan komplikasi penyakit tetanus.

Magnesium sulfat dan beta blocker dikonsumsi untuk mengurangi gejala komplikasi yang dialami oleh pasien.

Vaksin Tetanus
Vaksin tetanus tetap harus dilakukan meskipun seseorang sudah positif mengidap penyakit tetanus. Selain untuk mengurangi perkembangbiakan bakteri, vaksinasi juga berfungsi sebagai upaya pencegahan terhadap penyakit tetanus.

Pemasangan Alat Bantu Pernapasan
Alat bantu pernapasan mungkin diperlukan untuk membantu pasien yang mengalami kesulitan bernapas akibat penyempitan saluran pernapasan dan pembuluh darah di paru-paru.

Upaya Pencegahan Tetanus

Salah satu upaya pencegahan tetanus adalah melalui penyuntikan vaksin tetanus. Setelah melakukan penyuntikan vaksin, tubuh akan membuat antibodi yang dapat melawan racun neurotoksin. Di Indonesia, vaksin tetanus wajib diberikan, khususnya pada anak-anak.

Selain vaksinasi, tindakan lain yang dapat kamu lakukan untuk mencegah penyakit tetanus ialah membersihkan luka dengan air mengalir. Sebaiknya kamu juga tidak membiarkan lukamu terbuka begitu saja.

Pastikan kamu juga menggunakan peralatan yang sudah disterilkan untuk mengobati luka. Karena kamu tidak pernah tahu berapa banyak bakteri yang melekat pada peralatanmu.

Jika kamu merasakan gejala-gejala tetanus, maka sesegera mungkin pergilah ke dokter untuk mendapat pertolongan medis. Percayalah, menundanya hanya akan membuat penyakitmu bertambah parah.

Jangan Menganggap Sepele Penyakit Tetanus!
Kesimpulannya, tetanus adalah penyakit yang diakibatkan oleh bakteri Clostridium tetani yang masuk ke dalam tubuh melalui luka pada permukaan kulit yang diakibatkan oleh berbagai hal.

Meskipun tampaknya sepele, namun tetanus dapat mengakibatkan kematian karena racun neurotoksin yang disebarkan oleh bakteri Clostridium tetani dapat menyebabkan penggumpalan darah, serta membuat otot menjadi tegang dan kaku.

Tak hanya itu, apabila tidak segera mendapat pertolongan medis, penyakit tetanus dapat berevolusi menjadi berbagai penyakit lain. Seperti gagal ginjal, pneumonia, hingga detak jantung yang tak beraturan.

Oleh karena itu, lakukan vaksinasi secara rutin sebagai tindakan pencegahan dan jangan biarkan luka terbuka. Pastikan juga kamu selalu mencuci luka dengan air yang mengalir sampai tidak ada debu atau tanah yang menempel.

Fakta Varian Covid-19 Terbaru, Omicron dan Vaksin Booster

Sejak pertama kali kasus Omicron yaitu varian atau mutasi baru dari virus corona ditemukan di Indonesia, berita mengenai vaksin booster pun turut ikut semakin banyak dicari.

Kasus omicron sendiri pertama kali ditemukan di Indonesia tanggal 16 Desember 2021. Pasien yang membawa virus tersebut langsung di rawat dan karantina di wisma atlet Jakarta sampai saat ini.

Sementara itu Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut bahwa virus corona (Covid-19) varian Omicron atau yang dikenal sebagai B.1.1.529 kemungkinan besar memiliki kecepatan dalam penularan dan mampu menurunkan kemampuan antibodi dari infeksi alamiah dan vaksinasi.

Selain itu, Omicron juga dijelaskan memiliki kemungkinan besar untuk bisa escape immunity yang artinya 2 dosis vaksin yang selama ini telah dilakukan sebagian besar masyarakat Indonesia baik itu dengan jenis Sinovac, Astrazeneca, Moderna, Sinopharm dan lain-lainnya dikatakan kurang ampuh menghadapi omicron.

Bingung cari asuransi kesehatan terbaik dan termurah? Cermati punya solusinya!

Meskipun studi mengenai varian baru Covid-19 ini masih berjalan. Tapi tidak ada salahnya untuk mengetahui fakta-fakta terbaru mengenai Omicron.

Berikut fakta-fakta seputar omicron yang harus kamu ketahui:

1. Asal Muasal Omicron.
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, menyatakan bahwa kasus varian omicron pertama kali teridentifikasi di Afrika Selatan pada 9 November 2021. Pendeteksian dilakukan oleh para ilmuwan di sana karena melejitnya kasus positif Covid-19 di sejumlah Afrika Selatan.

2. Masuk Kategori VOC (Variant of Concern)
Varian yang memiliki nama lain Covid-19 B.1.1.529 ini masuk sebagai kategori VOC yang artinya, adalah varian yang menjadi perhatian karena memiliki tingkat penularan tinggi, virulensi yang tinggi, dan menurunkan efektivitas diagnosis, terapi serta vaksin yang ada.

3. Telah Menyebar ke 89 Negara
Setelah Afrika Selatan, tidak lama kemudian varian Omicron juga ditemukan di Korea Selatan. Karena Varian baru virus corona Omicron menyebar ke seluruh dunia dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Kasus Omicron pun dikatakan sudah menyebar ke 89 negara sejak pertama kali ditemukan (Sumber Kompas.com data per 30 Desember 2021)

4. Memiliki Gejala yang Ringan
Dokter asal Afrika Selatan yang pertama mencurigai gejala Omicron, mengatakan sejauh ini gejala pada Omicron ringan, dan dapat dirawat di rumah.

Ketua Asosiasi Medis Afrika Selatan, Angelique Coetzee, mengatakan kepada Reuters bahwa varian Omicron tidak seperti Delta. Sejauh ini pasien belum melaporkan kehilangan penciuman atau rasa dan tidak ada penurunan besar dalam kadar oksigen dengan varian baru.

Sementara itu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) menyebut gejala Omicron yang telah diamati, antara lain:

Batuk kering dan gatal di tenggorokan
Kelelahan
Hidung tersumbat
Demam
Mual
Napas pendek atau
kesulitan bernapas
Serta diare
5. Sudah Memiliki Kasus Kematian
Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengonfirmasi kematian satu pasien terinfeksi Covid-19 varian Omicron di Inggris. Johnson juga memperingatkan varian ini akan menjadi varian dominan di London.

6. Vaksin Booster Dikatakan Ampuh Hadapi Omicron
Sejauh ini kabar baik terkait Omicron adalah, vaksin booster yang tadinya untuk bantu hadapi varian Covid-19, Delta dikatakan juga ampuh untuk hadapi Omicron.

Peneliti Inggris telah menganalisis kemungkinan dampak vaksin booster COVID-19 pada Varian Omicron dan mengatakan itu bisa memberikan sekitar 85% perlindungan terhadap penyakit parah.

Namun, meskipun sudah divaksin booster, pasien yang tertular omicron harus tetap mendapatkan perawatan di rumah sakit dan karantina ketat.